Friday, August 5, 2011

Di Bulan Desember


Desember 2008
Semua orang entah itu wanita ataupun laki-laki, pasti ingin mendapatkan pasangan sesuai dengan tipe ideal-nya dan berharap pasangannya selalu mencintai kita dengan tulus, tapi waiittt! tunggu! Karena aku itu seorang putri, namaku sih, ingin rasanya jika dicintai oleh seorang pangeran berhati malaikat. Yup! Setiap wanita pasti menginginkannya, tapi sayang sekali, jangan terlalu bermimpi. Keliling dunia sekali pun, pasti sulit mendapatkan pasangan yang sempurna seperti itu. Tapi laki-laki yang tepat berada di sampingku ini, aku merasa dialah pangeran itu. Pangeran untukku. Akan tetapi...

“Tri… Putri… Put? Eh... Nih cewe kenapa sih… Oy Put!” terdengar samar-samar suara seorang laki-laki memanggilku, semakin jelas. Dan kemudian aku pun tersadar dari lamunanku.
“Hah! Iya! Apa? Udah selesai kah filmnya? Waw! Bagus banget ya Fin,” sahutku tergesa-gesa dan tanpa pikir panjang, sambil bertepuk tangan. Kulihat seorang cowok di sampingku memandang dengan tatapan yang sangat aneh, alis kanannya terangkat, dan sontak dia pun tertawa geli sambil memegangi tanganku untuk menghentikan tepuk tanganku.
“Maksudmu apa sih Put? Ish... pake tepuk tangan lagi, dilihatin orang-orang kali, malu... Filmnya mulai aja belum, mikirin apa sih Put? Dari tadi aku ajak ngobrol cuma diem terus...” katanya dengan ketus. Hehe... kebiasaan dari lahir kali, memang aku suka sekali bengong kalau kelamaan menunggu.
“Maaf deh Fin, kan aku lagi be-te nunggu film-nya, abis dari tadi ga mulai-mulai sih, kamu juga tau-lah kebiasaanku ini,” belaku sambil melepaskan genggaman tangan Fino.
Cowok disampingku ini namanya Fino, mantanku, dia pacarku yang pertama, sejak kami SMA, ya... hubungan kami berjalan sangat lama, hampir 4 tahun. Aku sudah putus dengannya sekitar 4 bulan yang lalu, dan memang aku yang memutuskannya, tapi kuanggap Fino sendirilah yang meminta hubungan kita berakhir. Pada saat itu tiba-tiba saja Fino pergi menghilang, tanpa sebab yang jelas, tanpa alasan yang jelas, lost contact, boom, ilang. Dan entah mengapa sekarang dia tiba-tiba muncul dan minta jalan lagi denganku? Hmm... ga taulah, aku juga bingung dengan diriku sendiri. Seharusnya aku menolaknya, tapi selain aku sedang bosan dan senggang saat liburan semester ini, jujur didalam lubuk hatiku yang paling dalam, masih ada Fino.
“Ssstt… dah mulai tuh filmnya,” bisiknya.
Kami lalu berkonsentrasi menonton film yang kami tonton, tapi tiba-tiba tangan Fino mencoba menggenggam tanganku, aku sih agak sedikit canggung, tapi entah kenapa aku enggan menolaknya. Fino menggenggam tanganku dengan begitu erat, tangannya terasa begitu dingin, mungkin karena kita berada di ruang ber-AC, pikirku. Aku sekilas melihat ke arah si Fino sesaat dia menggenggam tanganku dan kulihat tetesan air mata membasahi pipinya, heh? kok Fino mendadak cengeng! Dari dulu aku tak pernah sekalipun melihat dia nangis dan perasaan ini film kartun, kok bisa-bisanya nangis? Nangis karena apa?

Beberapa jam kemudian...

“Asyikkan filmnya? Lucu! Ehmm, Btw... kita kan masih libur panjang, gimana kalau kita jalan lagi besok? Kalau bisa sih selama liburan full! Pleaseee ya Put,” kata Fino sambil memohon dengan kedua telapak tangan diusap-usapkan dan senyumannya... Eh tapi kenapa dia begitu sumringah seakan tadi dia tidak sempet nangis. Apa aku yang salah lihat? Ah sudahlah ga usah dipikirin.
“Eh iya, filmnya bagus... Ehmm... Gimana ya? Bukannya mau nolak Fin, tapi kan kamu tahu, aku sekarang sama Sami, ga enaklah kalau kita jalan lagi? Tadi aja aku bohong sama dia, aku bilang mau nonton sama anak-anak,” bantahku, sambil memalingkan muka darinya. Aku berusaha tidak menatap wajahnya yang masih tersenyum itu. Hey… kalau si Sami tau aku jalan lagi sama Fino, mati aku. Aku kan masih ingin ditraktir belanja sama dia. Hehe. Tidak begitu juga sih, aku bukan cewek matre, Sami memang mencintaiku apa adanya, maka dari itu aku menerima cintanya, dan sebagai rejeki anak sholeh, gapapa kali aku bersyukur kalau sering dibelanjain.
“Halahh… Put! Cuma pas waktu liburan aja kok? Bukannya si Sami juga lagi liburan sama keluarganya di Paris?” jelasnya dengan suara merengek. Fino memang serba tahu tentang Sami, ga lain dan ga bukan karena mereka berdua bersahabat. Aku mengenal Sami juga karena Fino. Dan aku sangatlah kaget saat Sami menyatakan cinta padaku setelah mendengar aku dan Fino putus. Dia juga bilang bahwa dia menyukaiku sejak lama. Heran lagi, persahabatan mereka masih baik-baik saja sampai sekarang.
“Hmm… Okelah, jam berapa? Kamu jemput aku ya,” jawabku, tidak apalah, hitung-hitung mengisi waktu senggang karena toh Sami sedang pergi. Dan...
“Yess! Makasih Put! Besok aku jemput kamu di rumahmu tepat jam 3 sore,” sahutnya sambil mengusap-usap kepalaku. Seulas senyuman terlukis diwajahnya, dengan kedua lesung pipi yang terukir. Aku jadi kembali ingat senyuman itu-lah yang dulu pernah membuatku cinta mati padanya.

Beberapa minggu kemudian...

Selama dua minggu lebih Fino mengajak aku jalan. Dengan perlahan pintu hatiku mulai terbuka menerima cintanya kembali. Aku kembali jatuh cinta kepadanya, aku kembali dalam dekapannya, aku selingkuh, aku menyelingkuhi Sami. Kegilaan macam apa ini? Setiap hari, setiap malam, pasti Fino tak lupa mengatakan bahwa dia selalu mencintaiku, namun anehnya dia tak pernah memintaku untuk putus dengan Sami. Aku bingung, tapi aku senang. Selalu kubalas semua sms darinya, tak pernah ku lewatkan semua telepon darinya, walaupun aku juga tak mengacuhkan Sami yang selalu menghubungiku setiap hari. Tapi, aku kembali merangkul Fino saat dia memelukku dan sekarang aku selalu berdebar jika Fino berada didekatku atau menatapku atau memegang tanganku. Aku pun tak lagi menghindar ketika dia mencium keningku atau mencium bibirku, semuanya. Aku sangat nyaman berada kembali disisinya.

Januari 2009
“Wah bagus ya bunga tulip putihnya ini, kamu bukannya paling suka tulip warna ini kan Fin?” celotehku sambil menengok kearahnya untuk menunjukkan seikat bunga tulip yang kupegang, karena sedari tadi aku berdiri membelakanginya. Aku kemudian tersentak, secara tidak segaja bibir kami bersentuhan. Bibir Fino begitu hangat dan lembut, namun terasa kering. Sontak aku salah tingkah dan ingin memulai pembicaraan untuk mengalihkan rasa malu yang kurasakan, karena saat ini kita sedang berada di tempat umum. Fino hanya tersenyum dengan senyuman yang nakal, tanpa mengutarakan sepatah kata. Sambil berjalan bergandengan ke arah bangku taman, aku menatap wajah Fino, dan saat itu juga aku mulai menyadari bahwa wajah Fino semakin lama semakin tak sehat.
“Fin, kok muka kamu pucet banget sih? Lagi sakit ya? Ke dokter aja yuk? Ku anter ya, apa kita pulang aja?” tanyaku dengan sangat khawatir. Memang selama ini aku selalu melihat wajah Fino semakin hari semakin pucat, dengan bibir yang juga selalu kering. Semakin sering juga aku mendengarnya batuk-batuk, walaupun dia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi di belakangku. Pakaian yang dia kenakan juga semakin hari semakin aneh, untuk apa siang bolong yang panas dia memakai jaket yang begitu tebal? Dan dia selalu mengenakan topi, seperti ada yang dia tutup-tutupi, padahal kan sedari dulu dia ga pernah suka memakai topi? Aku sering menanyakannya dan dia selalu mengalihkan pembicaraan, dia selalu enggan untuk menjawabnya.
“Ah enggak, perasaanmu aja, aku sehat-sehat aja kok, mungkin cuma kurang tidur, akhir-akhir ini banyak tugas kuliah nih Put,” jawabnya lirih sambil meraih tanganku untuk menuntunku duduk dan kemudian dia mulai membelai rambutku, dia menatapku dengan lekat, kutatap juga matanya yang sayu, terlihat jelas jika dia sedang sakit, dia tidak bisa lagi membohongiku, saat ini aku benar-benar curiga padanya. Dari sikapnya yang selalu romantis sekarang padaku, padahal dulu sewaktu pacaran dia tak pernah seromantis ini.
“Beneran? Eh Fin sebentar lagi liburan udah mau usai, kita tetep sering jalan seperti ini kan?” tanyaku sambil menggenggam tangan Fino.
“Ya pasti Putriku sayang, ehem...” jawab Fino dengan suaranya yang sengau sambil tetap membelai rambutku, tak lupa dia pasangkan senyum padaku. Fino kenapa? Kecapekan jalan kali ya? Atau haus?
“Ehm... bentar deh ku beliin minuman buat kamu. Jangan kemana-mana dulu ya, duduk disini dulu, awas kalau kamu pergi!” kataku berusaha mencairkan suasana.
“Iya… makasih ya sayang, iya aku tunggu disini," sahutnya.

Di warung kelontong...

Belum sempat aku membayar minuman yang ku beli ke abang penjual warung, seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku tersentak sambil menengok ke belakang.
“Kan ku bilang tunggu di sana aja! Gimana sih Ff...” ujarku belum selesai, kemudian aku jadi salah tingkah melihat sosok seseorang yang sangat aku kenal. Sami. Kenapa dia disini? Apa dia melihatku dengan Fino?
“Hei yank, ngapain disini? Maksudmu nunggu, apa? Kangen deh sama kamu yank, aku baru balik nih dari Europe, muach..” berkata sambil mencium keningku. Aduh Sami, di tempat umum kaya gini dia menciumku, sontak aku melihat sekeliling, banyak pasang mata memandangi ke arah kita.
“Oh Hei Sam? Kukira temenku Cindy dan yang lain, tadi kita jalan aku suruh mereka tunggu di taman dekat toko bunga disana. Eh tapi, tau deh, kayaknya udah pada balik duluan. Seharusnya aku dong yang tanya, ngapain kamu disini? Tumben banget kamu mau masuk ke warung? Nih bang uangnya,” jawabku cengengesan mencari alasan sambil mengelungkan uang kepada penjual warung. Sumpah saat ini aku deg-deg an, mati aku kalau ketahuan bohong.
“Oh, kayanya pulang tuh, ga ada tuh mereka. Saat nyetir tadi aku liat ada gadis cantik masuk ke sini, ya udah aku nepiin mobil dong, tapi orangnya mana ya? mana ya? eh disini toh rupanya?” katanya sambil lirik kanan kiri seolah-olah sedang mencari seseorang, kemudian dia memelukku kembali. Jelas dia sedang menggombal dan untung saja dia tak menanyakan sesuatu yang kalau-kalau dia sempat melihatku bersama Fino. Lega.
Kami pun kemudian bercakap-cakap seputar liburan Sami ke Europe, sambil duduk di dalam warung sebentar. Sebentar? Tunggu aku lupa akan sesuatu? Fino? Ya Tuhan! hampir satu jam aku pergi ninggalin Fino. Hendak aku ingin mencari-cari alasan untuk pamit pada Sami, abang penjual diwarung tiba-tiba berkata,
“Wah ada apa itu ya? Pada rame-rame kumpul disana?” sambil nunjuk ke arah bangku taman, bangku tempat aku meninggalkan Fino sejam yang lalu. Wait... tunggu... perasaanku ga enak. Jangan-jangan..
Aku panik, aku berlari sekencang mungkin yang aku bisa, aku bahkan lupa saat itu aku sedang besama Sami. Sami pun nampaknya ikut berlari mengikutiku dari belakang sambil berusaha menarik lenganku,
“Hei, ada apa yank!"
“B-bentar Sam, aku harus buru-buru!

...

“Fin! Bertahan Fin! Maafin Aku! Fin... seharusnya aku ga ninggalin kamu hu... hu... hu... hu...,” teriakku sambil mendorong ranjang pasien dimana Fino berbaring. Seorang suster menghalangiku untuk menyusul masuk ke dalam ruang UGD. Ada apa ini? Kenapa Fino bisa pingsan? Kenapa? Dia sakit apa?
“Yank! Kenapa Fino bisa pingsan disana? Kenapa kamu tau dia disana? Kenapa? Ninggalin dia gimana? Kamu sedang sama Fino sebelumnya bukan Cindy dan yang lain? Ada apa kamu sama Fino sebenarnya? Kalian diam-diam jalan berdua di belakang aku?” tanya Sami bertubi-tubi sambil menggoyang-goyangkan pundakku.
“Hu… hu… hu… Maafin aku Sam… aku…, aku ga tahu Fino kenapa, makasih Sam udah nganterin… Fino kerumah sakit… untung ada kamu Sam, dan sebenernya aku sama Fino… aku sama dia... sama dia... hu... hu…“ jawabku sambil terisak memegangi lengan Sami berusaha menjelaskan, kedua kakiku tak kuat berdiri, lemas rasanya melihat Fino pingsan, dan wajahnya sangat pucat seperti mayat, saat dalam perjalanan ke rumah sakit tadi. Belum aku sempat melanjutkan penjelasanku, seorang wanita menghampiri kami sambil setengah berlari. Mama Fino.
“Dimana Fino, nak Sam? Eh nak Putri juga di sini?” katanya sambil menjulurkan tangannya hendak bersalaman denganku dan Sami. Terlihat air mata bercucuran dari kedua matanya.
“Iya tante, lama ga ketemu tan,” sahutku sambil tersenyum.
                “Fino sedang berada dalam penanganan medis di ruang UGD tante,” jawab Sami.
“Oh syukurlah kalau begitu nak Sam. Terimakasih nak Sam sudah mengantarkan Fino ke rumah sakit. Jujur nak Sam, saya sudah tidak tahan melihat Fino seperti ini... dia semakin hari semakin lemah, dia sudah tak mungkin sanggup bertahan lagi, seharusnya tante larang dia pergi keluar, tapi Fino selalu bersih keras untuk pergi, tante tidak tahu kenapa dia begitu? Dan tante hanya bisa menuruti keinginannya,” isak tante Mirna. Terlintas di benakku. Apa karena aku Fino memandel? Aku hanya bisa berdiri terdiam tanpa bersuara mendengarkan tante Mirna dan Sami berbicara.
“Maaf tante, kalau boleh tahu, sebenarnya Fino kenapa?” tanya Sami.
“Dia divonis mengidap Kanker darah, Nak, hampir stadium 4,” jawab tante Mirna lirih. Sami dan aku hanya diam membisu, jelas kami berdua terkejut.
“Apa tante? Emang sejak kapan dia divonis penyakit itu Tante? Kok saya tidak pernah tahu ya Tante?” tanya Sami.
“Mungkin, kira-kira 4 bulan yang lalu… Fino minta ke tante agar penyakitnya tidak diketahui orang lain, dan memang Fino sempat menjalani rawat inap tepat setelah mendengar vonis dari dokter. Tapi akhir-akhir ini, Fino tak mau menjalani pengobatan medis di rumah sakit nak Sam... Tante sudah memaksanya, tapi Fino selalu menolak untuk rawat inap di rumah sakit... dia selalu bilang bahwa itu semua percuma, padahal dokter dan pihak rumah sakit sudah menyiapkan operasi untuk Fino,” jawab tante Mirna sambil terisak-isak. Sami menepuk-nepuk halus punggung tante Mirna, berusaha untuk menenangkannya.
Saat 4 bulan yang lalu? Saat dimana aku merasa benci dan marah pada Fino karena dia menghilang? Saat itu padahal dia sangat terpukul dengan keadaannya itu? Begitu jahatnya aku, saat itu aku pikir Fino menghilang tanpa ada kabar karena dia sedang selingkuh, ada perempuan lain. Sungguh teganya aku? Bahkan aku menghianatinya dengan menerima cinta Sami. Sahabatnya sendiri?
Sesaat aku dan Sami saling bertatapan... Hatiku hancur... Bagai di sambar petir di siang bolong. Tangisku pun pecah.

Februari 2009
Setiap hari aku mengunjungi Fino di rumah sakit. Fino sudah 1 bulan koma setelah pasca operasi. Kadang aku datang bersama Sami. Sami pun sudah tahu semuanya, dia mengijinkan aku untuk menemani dan selalu berada disamping Fino. Betapa baiknya Sami, bahkan dia tidak marah sedikitpun mengetahui aku sempat jalan lagi dengan Fino, aku berhutang banyak padanya.
“Fin... kapan sih kamu bangun? Hey aku sudah bosan ya liat kamu tidur mulu? Eh lihat, coba tebak aku bawain kamu apa? aku bawain bunga tulip nih, yang warnanya putih, kesukaan kamu kan? Ku taruh disini ya? Eh iya Fin, ini hlo ada Sami juga disini? Kamu ga pengen apa ngobrol sama Sami? Fin, Bangun dong Fin... hu…hu…” isakku sambil menggenggam tangan Fino, begitu dingin tangan Fino.
“Yank... pasti Fino bakal sadar, pasti. Kamu harus sabar ya. Masih ada banyak waktu... kita harus selalu mendoakannya...” ujar Sami meyakinkanku, sambil memegang bahuku.

Desember 2009
“Put...” terdengar suara lirih didekat telingaku, dan suara itu begitu lemah memanggil namaku, terasa sentuhan jemari membelai rambutku.
“Putri…”
Aku pun terbangun dari tidurku. Kemudian aku baru tersadar bahwa aku tertidur disamping ranjang Fino.
“Fin? Akhirnya kamu sadar, bentar ya aku panggilin mamamu sama dokter,” sahutku padanya, syukurlah. Kemudian tangan kurus Fino menggapai dan menggenggam tanganku, mencegahku beranjak menjauhi ranjang tempatnya terbaring.
“Enggak Put, jangan pergi, kamu disini aja, dan itu enggak perlu... ga perlu kamu panggil dokter, tidak akan sempat... udah ga ada waktu untukku lagi Put… " ujar Fino dengan suara lemahnya. Sekejap aku teringat bahwa tante Mirna memang sedang bekerja.
“Apa maksudmu? Jangan pernah bilang begitu! Enggak! Fin denger! Apa pun yang terjadi, kamu ga boleh menyerah, kamu pasti sembuh! Ingat mama kamu! Kamu tega meninggalkan mamamu sendirian Fin? Dan aku? Fin aku cinta sama kamu... dan... dan... kamu... kamu juga cinta kan sama aku, Fin… aku ga ngijinin kamu pergi Fin hu... hu... hu… aku ga bakal biarin kamu pergi...” teriakku sambil terisak-isak. Seulas senyum terukir di bibir Fino, bagai malaikat, begitu damai dan kemudian dia menggeleng.
Fino mencoba merangkulku untuk memenangkanku dan dia mencium keningku.
“Putri, tenanglah… semua akan baik-baik saja, Uhuk...” ujar Fino berusaha meyakinkanku.
“ …”
“Put… aku minta tolong, tolong sampaikan pada Mama, aku minta maaf… aku ga bakal bisa lagi jagain mama… bilang juga ke mama untuk ngikhlasin aku dan Hey, katakan kepada Mama, aku pasti akan memukuli ayah, bila nanti bertemu. Tega sekali dia meninggalkan kita berdua… hahaha... Uhuk,”
“…” aku menggeleng, air mataku tak hentinya menetes.
“Put... apapun yang terjadi setelah aku pergi, kamu harus tetap semangat, kamu harus bahagia, melangkahlah ke hari esok, janji ya... uhuk,”
“Fin udah, cukup Fin,”
“Dan kamu jangan ingat masa lalu, termasuk mengingat-ingat aku... jangan suka melamun... Put...  maafkan aku  ya, udah membuat kamu mencintaiku lagi... maaf aku sangat egois... dan makasih Put, kamu sudah mengisi sisa hari-hariku, dan sampaikan salamku untuk Sam, sampaikan ke dia agar selalu menjagamu, dan kamu sama Sam harus bahagia... hah... uhuk”
“Fin udah... cukup... Jangan diterusin,”
“Uhuk... Asal kamu tahu... Aku selalu mencintaimu Putri, bidadariku, permainsuriku, maafkan aku sempat buat kamu kecewa, dengan menghilang dan tidak mengabarimu tiba-tiba... dan maaf ya Put untuk sekali lagi, aku bakal ngilang... hahaha... hah... hah... uhuk” ujar Fino berusaha tertawa, padahal untuk berbicara saja susah, napasnya saja sudah terengah-engah.
“Fino...”
“Tapi satu hal yang perlu kamu tau Put, kamu cinta pertama aku dan kamu-lah juga cinta terakhir buat aku. Mencintaimu adalah hadiah paling terindah yang dikasih Tuhan ke aku, terima kasih Putri… telah mengijinkanku untuk sempat mengisi hari-harimu," kata Fino sambil tersenyum dia berusaha membelai pipiku.
Tangan Fino terjatuh sesaat setelah dia berhasil membelai pipiku, kedua mata Fino perlahan terpejam, kedua lesung pipi kembali terlukis di pipinya, seberkas senyuman tampak begitu indah di wajahnya, senyuman Fino sangat damai, tiada penyesalan, bagai seorang manusia yang paling bahagia.
“Gak! Fino! Kamu harus bertahan... Jangan pergi! hu... hu... hu... hu... Finoooo... Dokter... Suster...Tolong!

Desember 2010
Tin…Tin...Tin…
“Yank.... Ayaaankk! Ayo! Ayo berangkat... Buruan! Keburu kesorean nih!”
“Bentar Yank, tinggal pake sepatu doang kok!” teriakku dari teras rumahku. Bergegas aku menghampiri mobil yang dikendarai Sam.
Sesaat ku pandangi langit. Hmm… hari ini langit sangat cerah. Setahun tepat Fino pergi. Hey! Apa kau dengar Fino? Asal kamu tau ya Fino, kamu itu curang! Kamu pergi saat aku kembali mencintaimu. Aku memang akan selalu mencintaimu, selama-lamanya. Walaupun sekarang aku sudah sah menjadi istri Sami, selalu ada tempat kok untukmu di hatiku. Namun seperti apa katamu, aku harus tetap melangkah, menyongsong hari esok. Aku berjanji akan bahagia disini. Hey lihat, ini bunga-bunga tulip putih, bunga yang ku tanam sendiri 3 bulan lalu di rumah kaca kami, yang ini sudah mekar, indah bukan? Hari ini aku dan Sami ingin mengunjungimu dan sekalian mampir ke rumah tante Mirna, mamamu. Hmmm Fin... kamu pasti sedang tersenyum di surga kan Fin? Ah... Bahagianya kamu.

...

“Lah? Masa bawa segitu banyak?“ kata Sami kaget. Setelah melihatku membawa buket-buket bunga yang kuletakkan dikursi belakang.
“Banyak gimana? ini kan cuma dua iket, satu buat Fino satu lagi buat Tante Mirna,” jawabku. Sami pun mendesah dan berkata…
“Iya dua, tapi satu iketnya berapa kembang itu? Hla yank, aku jatahnya mana? Masa sama ayanknya sendiri ga ada jatahnya” canda Sami dengan manja sambil mencubiti pipiku.
“Hussh... Ngaco kamu...sejak kapan kamu demen sama kembang? Hmm... tapi aku juga ada hadiah kok buat kamu! Hadiah yang amat spesial,“ ujarku sambil tersenyum menggodanya.
“Apa sih yank, mana? Aku ga lihat apa-apa selain kamu bawa bunga?” tanya Sami penasaran, ku raih tangan Sami. Dia pun terdiam dan menatapku dengan lekat. Aku kemudian menatap wajah Sami dan aku letakkan tangannya diatas perutku. Sambil tersenyum aku berkata,
“Yank, dengar, kita punya anggota baru... aku udah telat sebulan... dan dah aku cek pake... " belum selesai aku bicara, tiba-tiba Sami beranjak dari bangku setir. Seketika Sami mendekapku dengan sangat erat dan mencium keningku, eh bukan hanya itu, dia bahkan menciumiku di seluruh bagian wajahku tepatnya dan kemudian mendekapku kembali. Sesuai dengan janjiku Fin, sekarang aku teramat bahagia bersama Sami. Fino.



FIN

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading, I hope you enjoyed, please leave a comment to feed back.