Friday, August 5, 2011

Di Bulan Desember

Desember 2008
Semua orang entah itu cewek ataupun cowok, pasti pengen banget dapetin pasangan yang sesuai dengan tipenya dan berharap dia juga selalu mencintai kita dengan tulus, tapi waiittt! Aku itu seorang putri, pengen banget  bila dicintai seorang pangeran yang berhati seperti malaikat. Yap! Setiap wanita pasti ingin menjadi seperti itu, tapi sayang sekali, itu hanya didunianya. Yap betul, dimimpinya. Apapun yang diinginkan pasti terwujud, tapi hanya sekedar bermimpi. Namun kalau didunia kita sebenernya semua itu ga mungkin terjadi.
 “ Tri… Putri… Put? Nih cewe kenapa sih… Oy sadar!” terdengar samar-samar suara seorang cowok memanggilku, semakin jelas. Aku pun tersadar dari lamunanku.
“ Hah apa? Udah selesai film nya? Bagus banget ya,” kataku serentak, kulihat seorang cowok disampingku memandang dengan tatapan yang sangat aneh, alis sebelah kanannya terangkat, dan dia pun tersenyum geli.
“ Maksudmu? Filmnya mulai aja belum, mikirin apa sih Put? Dari tadi diajak bicara cuma diem aja… Kita kan lagi nonton, masak kamu malah asikkan bengong,” katanya dengan ketus. Hehe.. kebiasaan dari lahir kali, memang suka banget bengong kalau kelamaan nunggu.
“ Maaf deh Fin, kan lagi be-te nunggu film-nya ga mulai-mulai,” belaku. Namanya Fino dia pacarku yang petama, tapi aku sudah putus dengannya sekitar 4 bulan yang lalu, dan Fino lah yang meminta hubungan kita berakhir. Saat itu tiba-tiba saja Fino memutuskan hubungan kita. Namun tanpa sebab yang begitu jelas. Dan entah kenapa sekarang dia tiba-tiba minta balikan lagi? Hmm.. ga taulah, aku bingung.
“ Ssstt… tu dah mulai,” bisiknya.
Kami lalu konsentrasi ke film yang kami tonton, tapi tiba-tiba tangan Fino mencoba memegang tanganku, aku sih agak sedikit risih, tapi ya tak apalah. Fino menggenggam tanganku dengan begitu erat. Aku salah liat atau apa tapi tiba-tiba kulihat sekilas si Fino meneteskan air mata, heh cengeng amat. Perasaan ni film kartun deh, kok nangis?
ÖÖ
 “ Asikkan tadi filmnya? Ehmm, Btw.. kan kita masih libur panjang, gimana kalau kita jalan lagi besok? Pleaseee,” Kata Fino sambil memohon, dan itu, senyumannya, senyuman malaikatnya itu, itu yang membuat aku lemah jika berhadapan dengannya.
“ Eh iya, filmnya bagus… Ehmm… gimana ya? Tapi kan aku udah punya Sami Fin, ga enaklah kalau kita jalan lagi? Tadi aja aku bohong sama dia?” Bantahku, sambil memalingkan muka, berusaha tidak menatap wajahnya yang masih tersenyum itu. Hey… kalau si Sami tau aku jalan sama Fino, mati aku. Aku kan masih pengen belanja gratis. Hehe.
“ Halahh… Put! cuma waktu liburan aja kok? Bukannya si Sami kan liburan sama keluarganya di Paris? Ingat?” jelasnya. Fino tau kalau Sami pergi, ga lain dan ga bukan karena memang Fino itu sahabatnya Sami. Eh iya bener, si Sami kan lagi liburan? Kemaren aja aku nitip oleh-oleh yang banyak dari dia. Hehe.
“ Hmm… Okelah, jam berapa?” jawabku, tak apalah, itung-itung ngirit isi dompet waktu musim liburan gini. Hehe.
“ Besok aku jemput kamu di rumahmu,” sahutnya. Seulas senyuman terlukis dimulutnya, terlihat kedua lesung pipinya yang tampakjelas terukir di pipinya, senyuman malaikatnya itu, aku ingat betul, senyuman itu yang dulu pernah membuatku jatuh cinta padanya.
ÖÖ
Singkat cerita, dua minggu lebih Fino mengajak aku jalan. Perlahan pintu hatiku mulai terbuka menerima cintanya kembali. Aku kembali jatuh cinta kepadanya, aku balikan lagi dengannya, aku selingkuh. Setiap hari, setiap malam, pasti Fino tak lupa meyakinkanku bahwa dia selalu mencintaiku. Aku senang. Maka kubalas semua sms darinya, ku angkat semua telepon darinya, aku mulai merangkulnya saat dia memelukku. Aku mulai kesal jika dia tak membalas, atau tak meneleponku lagi. Aneh, sekarang aku selalu berdebar jika Fino berada didekatku atau menatapku atau memegang tanganku atau mencium keningku atau mencium bibirku, semuanya. Aku sangat nyaman berada disisinya, kembali.
Januari 2009
“Wah bagus ya Tulip putihnya, kamu paling suka tulip warna itu kan Fin?" celotehku sambil menengok kearahnya, yang sedari tadi aku duduk membelakanginya.
Tersentak aku kaget, bibir kami bertemu. Bibir Fino begitu hangat dan lembut. Sontak aku salah tingkah dan ingin memulai pembicaraan. Dan saat itu juga aku mulai menyadari bahwa wajah Fino semakin lama semakin nampak tak sehat.
" Kok muka kamu pucet banget sih? Lagi sakit ya? Ke dokter aja ya? Ku anter ya?” tanyaku khawatir. Memang selama ini aku selalu melihat wajah Fino selalu pucat, makin pucat dan semakin pucat, dan bila aku bertanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan, dia enggan menjawab.
“ Ah enggak, aku sehat kok, mungkin cuma kurang tidur, banyak tugas kuliah sayang,” jawabnya lirih sambil mencium keningku, terlihat jelas jika dia sedang sakit, saat ini aku semakin curiga.
“ Beneran? eh Fin sebentar lagi liburan udah usai, kita tetep jalan kan?" tanyaku sambil menggenggam tangan Fino
" Ya pasti kan sayang," jawab Fino sambil membelai rambutku, tapi nampak wajah Fino yang sayu. Fino kenapa?
" Ehm.. bentar deh ku beliin minuman buat kamu. Jangan kemana-mana dulu, awas kalau kamu pergi!” berusaha mencairkan suasana.
“ Iya… makasih ya sayang,” sahutnya sambil tersenyum, tapi senyuman itu berbeda, seyuman Fino sangat suram.
Belum sempat aku membayar minuman yang ku beli kepada abang penjual warung, seseorang menepukku dari belakang. Aku tersentak sambil menengok kebelakang. Aku salah tingkah melihat sosok seseorang yang sangat aku kenal. Sami.
“Hei yank, ngapain disini?” berkata sambil mencium keningku.
“Hei? Oh kamu Sam? Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu disini? Tumben banget kamu masuk ke warung? Nih bang uangnya,” jawabku cengengesan sambil mengelungkan uang kepada penjual warung.
“ Saat nyetir tadi aku liat ada gadis cantik masuk ke sini, ya udah aku nepiin mobil, tapi orangnya mana ya, kok ga ada?” katanya sambil mesam-mesem  padaku. Jelas dia sedang menggombal dan dia juga tak menanyakan padaku kalau dia sempat melihatku bersama Fino. Lega.
Kami pun bercakap-cakap didalam warung sebentar. Sebentar? Tunggu aku lupa sesuatu? Fino? OMG, hampir satu jam aku pergi ninggalin dia. Buset dah. Hendak aku ingin pamit pada Sami, abang penjual diwarung serontak berkata.
“ Ada apa itu? Pada rame-rame kumpul disana?” sambil nunjuk ke arah dimana tadi aku dan Fino duduk. Waittt… perasaanku ga enak.
" Dimana pak?"
" Itu neng deket taman bunga Tulip,"
Aku panik, aku berlari sekencang mungkin yang aku bisa, Sami pun juga ikut berlari mengikutiku dan terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi,
“ Hei, ada apa Put!
ÖÖ
“ Fin! Bertahan Fin! Maafin Aku! Fin…huhuhuhu,” teriakku sambil mengikuti kereta dorong Fino menuju UGD. Seorang suster menghalangiku untuk menyusul masuk ke dalam ruang UGD. Ada apa ini? Kenapa Fino pingsan? Kenapa?
“ Put? Kenapa Fino pingsan disana? Kenapa dia sama kamu bisa berada disana? Kenapa? Ada apa kamu sama Fino?” tanya Sami bertubi-tubi sambil memegang pundakku.
“ Hiks..hiks… Maafin aku… aku…, tapi makasih udah nganterin…Fino kerumah sakit… untung ada kamu Sam, sebenernya aku sama Fino… aku sama dia...sama dia” Jawabku sambil terisak memeluk Sami. Belum sempat melanjutkan, seorang wanita menghampiri kami sambil setengah berlari.
“ Dimana Fino, Nak? Nak Sami kan?” katanya. Terlihat air mata bercucuran dari kedua matanya.
“ Iya saya Sami temennya Fino tante, Dia di dalam ruang UGD tante, Tante Mirna?” jawab Sami.
“ Iya, saya ibu Mirna. Saya sudah ga tahan melihat Fino seperti ini nak Sam… dia begitu lemah, dia sudah tak mungkin sanggup bertahan lagi,“ isak ibu Mirna.
“ Kalau boleh tahu Tante, sebenarnya Fino kenapa?” tanya Sami.
“ Dia selama ini sudah divonis mengidap Kanker darah, Nak,” jawab ibu Mirna lirih. Sami dan Aku hanya diam membisu, kami terkejut.
“ Dan sejak kapan dia tahu penyakitnya itu Tante?” tanya Sami.
“ Mungkin sejak 4 bulan yang lalu…
Aku dan Sami saling bertatapan...
ÖÖ
Februari 2009
Setiap hari aku mengunjungi Fino dirumah sakit. Fino sudah satu bulan koma. Aku kadang datang bersama Sami. Sami sudah tahu semuanya, dia mengijinkan aku untuk menemani Fino. Betapa baik Sami, aku berhutang banyak padanya.
“ Fin… kapan kamu bangun? Hey aku sudah bosan liat kamu tidur mulu? Hey lihat, aku bawain tulip putih, ini kesukaanmu kan? Ku taruh disini ya? Fin? Bangun dong… hiks…hiks…” isakku sambil menggenggam tangan Fino, erat.
“ Put… pasti Fino bakal sadar, itu pasti. Masih ada banyak waktu…kita harus selalu mendoakannya...” kata Sami meyakinkanku, sambil memegang bahuku, erat.
ÖÖ
Desember 2009
“ Put…” terdengar suara lirih didekat telingaku, dan suara itu begitu lemah memanggil namaku, terasa ada jemari tangan  membelai helai rambutku, lembut.
“ Putri…”
Aku pun terbangun dari tidurku.
“ Fin? Akhirnya kamu bangun, bentar aku panggil dokter,” kataku dengan bahagia. Namun tangan kurus Fino mencegahku dengan menggenggam tanganku erat.
“ Enggak, jangan, itu enggak perlu… udah ga ada waktu lagi Put…
“ Apa maksudmu? Enggak jangan pernah bilang begitu… enggak… Fin denger! Apa pun yang terjadi, kamu jangan menyerah, kamu pasti sembuh… Fin aku cinta sama kamu… dan kamu juga cinta sama aku, aku ga mau kamu pergi Fin.. huhuhu… aku ga bakal biarin kamu pergi…” teriakku. Seulas senyum terukir di bibir malaikat Fino, dan dia menggeleng…
Fino mencoba merangkulku untuk memenangkanku dan dia mencium keningku.
“ Putri, cobalah untuk bersikap tenang… semua akan baik-baik saja, Uhuk…” Fino meyakinkanku.
“ …”
“ Put… aku minta tolong, tolong sampaikan pada Mamaku, aku minta maaf… aku ga bakal bisa lagi jaga mama… Hey, katakan kepada Mama, aku pasti  akan memukuli ayah bila bertemu disana. Karena dia tega meninggalkan kita berdua … Uhuk,”
“ …” aku menggeleng, air mataku tak berhenti menetes.
“ Put… apapun yang terjadi, kau harus tetap melangkah maju,  Uhuk,”
“ Fin udah…”
“ Jangan terus termakan masa lalu, termasuk karena aku… maafkan aku yang udah membuat kamu mencintaiku lagi…”
“ Fin udah…cukup… Jangan diterusin,”
“ Uhuk… Asal kamu tahu….Aku tetap selalu mencintaimu… Put…”
“ Fino…”
“ Tapi satu hal yang perlu kamu tau, kamu cinta pertama aku Put dan kamu juga cinta terakhir buat aku. Terima kasih Putri…” kata Fino sambil membelai pipiku.
Tangan Fino lemas terjatuh dari genggamannya di kedua pipiku, kedua mata Fino perlahan terpejam, kedua lesung pipi itu terlukis di pipinya, seberkas senyuman tampak dari bibirnya, senyuman Fino sangat damai, bagai malaikat yang paling bahagia.
“ Gak! Fino! Kamu harus bertahan… huhuhuhu... Finoooo….
ÖÖ
Desember 2010
Tin…Tin...Tin…
“ Yank ayo berangkat… Keburu kesorean... cepetan…”
“ Bentar Sam, tinggal pake sepatu doang kok…” teriakku dari teras.
Hmm… matahari bersinar terang, hari ini cerah. Setahun tepat Fino pergi. Hey! kau dengar kan Fino? asal kamu tau Fino, kamu curang! Kamu pergi saat aku kembali jatuh cinta padamu. Tapi sudahlah, itu sudah bukan hal terpenting lagi. Aku memang akan selalu mencintaimu, selama-lamanya. Namun seperti apa katamu, aku harus tetap melangkah maju.
Hey lihat, ini bunga tulip putih, bunga yang ku tanam sendiri tahun lalu, sekarang sudah bermekaran, indah bukan?
“ Lah? Masa bawa segitu banyak? ” kata Sami kaget.
“ Banyak gimana? kan cuma dua iket, satu buat Fino satu lagi buat Tante Mirna,” jawabku. Sami pun mendesah dan berkata…
“ Kok gitu sih, la aku jatahnya mana? Masa sama ayanknya sendiri ga ada jatahnya” canda Sami sambil mencubit pipiku.
Huss Ngaco kamu…
ÖTHE ENDÖ


Ö THE END Ö

No comments:

Post a Comment

Makasih udah sudi baca, sekarang saatnya kamu tulis komen. thanks maksimal.
:)